MEDAN, ARKAMEDIA – Dugaan pelanggaran standar higienitas di dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) SPPG Sei Kambing B, Kecamatan Medan Sunggal, menuai sorotan. Kepala SPPG setempat, Sowy Ambiya, disebut-sebut kerap mengabaikan prosedur sanitasi yang seharusnya diterapkan secara ketat di area pengolahan makanan.
Berdasarkan pantauan tim ARKAMEDIA di lokasi, Soowy Ambiya diduga beberapa kali memasuki area dapur menggunakan alas kaki pribadi dari luar tanpa melalui prosedur sterilisasi. Aktivitas tersebut disebut terjadi mulai dari ruang kerja Kepala SPPG, ruang racik, dapur utama hingga area pemorsian makanan.
Padahal, dapur MBG merupakan fasilitas pengolahan pangan yang wajib menerapkan standar kebersihan dan keamanan pangan secara ketat. Seluruh personel yang masuk ke area dapur diwajibkan menggunakan perlengkapan khusus seperti alas kaki steril, masker, penutup kepala, serta sarung tangan guna mencegah potensi kontaminasi.
Seorang relawan yang meminta identitasnya dirahasiakan menyebut praktik tersebut telah berlangsung cukup lama.
“Sudah jadi pemandangan sehari-hari. Dari luar langsung masuk pakai sepatu yang sama. Bahkan pernah dalam kondisi berlumpur habis hujan,” ujarnya kepada wartawan.
Relawan lainnya menilai penerapan aturan di lingkungan dapur tidak berjalan konsisten. Menurutnya, relawan diwajibkan mematuhi protokol kebersihan secara ketat, namun pimpinan justru diduga tidak memberikan teladan yang sama.
“Untuk kami aturannya sangat ketat. Tapi beliau sendiri tidak pakai masker, tidak ganti alas kaki, dan itu terjadi setiap hari,” katanya.
Secara regulasi, praktik tersebut dinilai berpotensi bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan yang menegaskan bahwa setiap proses pengolahan pangan wajib memenuhi standar sanitasi dan keamanan pangan.
Selain itu, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1096/Menkes/Per/VI/2011 tentang Higiene Sanitasi Jasaboga juga mengatur bahwa area pengolahan makanan harus terbebas dari sumber kontaminasi, termasuk penggunaan perlengkapan pribadi yang tidak higienis.
Tak hanya soal kebersihan, sejumlah relawan juga menyoroti pola kepemimpinan Kepala SPPG yang dinilai minim pengawasan dan komunikasi dengan tim operasional di lapangan.
“Kalau datang pun paling sebentar, tidak sampai lima menit, lalu pergi lagi. Kami juga hampir tidak pernah diajak komunikasi,” ungkap relawan lainnya.
Minimnya kehadiran pimpinan dinilai dapat memengaruhi efektivitas pengawasan di dapur MBG, terlebih makanan yang diproduksi akan langsung didistribusikan kepada masyarakat penerima manfaat.
Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran terkait kualitas pengelolaan dapur MBG dan keamanan pangan yang disajikan. Publik pun berharap adanya evaluasi dan pengawasan lebih ketat dari pihak terkait agar standar kesehatan tetap terjaga.
Terpisah, Kepala SPPG Sei Kambing B Medan Sunggal, Sowy Ambiya, telah dikonfirmasi ARKAMEDIA pada Selasa (19/5/2026). Namun hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan resmi.

