Deli Serdang, ARKAMEDIA — Tragedi meninggalnya seorang siswa Sekolah Dasar (SD) berusia 10 tahun di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga dipicu ketidakmampuan orang tuanya menyediakan buku tulis dan alat tulis, menjadi pukulan keras bagi nurani publik. Peristiwa memilukan ini menegaskan bahwa ketimpangan akses terhadap pendidikan dasar masih menjadi persoalan serius di Indonesia.
Menanggapi kejadian tersebut, Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Peduli Memajukan Sumatera Utara (APMPEMUS) menyerukan sebuah gerakan nyata berupa pengumpulan dan penyaluran buku serta alat tulis bagi anak-anak SD dari keluarga kurang mampu, khususnya di wilayah Sumatera Utara. Gerakan ini ditegaskan bukan sebagai aksi seremonial semata, melainkan bentuk tanggung jawab moral kolektif.
Sekretaris Jenderal APMPEMUS, Fiqri Irhami, menyatakan bahwa tragedi tersebut harus menjadi peringatan keras bagi seluruh elemen bangsa. Menurutnya, ketika sarana belajar paling dasar tidak dapat diakses oleh anak-anak, maka empati tanpa tindakan tidak akan menyelesaikan persoalan.
“Respons atas peristiwa ini harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Penyediaan buku dan alat tulis adalah langkah konkret untuk mencegah lahirnya keputusasaan yang sama. Ini bukan kerja satu organisasi, melainkan panggilan nurani bersama,” ujar Fiqri di Deli Serdang, Rabu (4/2).
Senada dengan itu, Ketua APMPEMUS, Iqbal, SH, menilai tragedi tersebut mencerminkan kegagalan nurani kolektif dalam menjamin hak dasar anak atas pendidikan. Ia menegaskan bahwa pendidikan dasar tidak boleh berubah menjadi kemewahan yang hanya dapat diakses oleh sebagian kalangan.
“Ketika seorang anak kehilangan harapan hidup hanya karena tidak mampu membeli buku dan pena, maka persoalannya bukan pada anak tersebut, melainkan pada sistem kepedulian kita. Buku dan alat tulis adalah hak dasar, dan kemiskinan tidak boleh memutus mimpi seorang anak,” tegas Iqbal.
Sebagai bentuk komitmen nyata, APMPEMUS membuka Sekretariat APMPEMUS sebagai pusat pengumpulan dan penyaluran buku serta alat tulis bagi anak-anak SD kurang mampu di Sumatera Utara. Langkah ini diharapkan menjadi jembatan kepedulian antara masyarakat dan anak-anak yang membutuhkan.
Sementara itu, Bendahara APMPEMUS, Ali Akbar Lubis, menekankan pentingnya akuntabilitas dan kepercayaan publik dalam setiap gerakan sosial. Ia memastikan bahwa seluruh bantuan yang diterima akan dikelola secara transparan dan disalurkan secara tepat sasaran.
“Kepedulian harus dibarengi dengan tanggung jawab. Setiap sumbangan, sekecil apa pun, akan dicatat dan disalurkan kepada anak-anak yang benar-benar membutuhkan. Integritas adalah fondasi utama agar gerakan ini memberi dampak nyata,” ujarnya.
Melalui gerakan tersebut, APMPEMUS berharap sekretariat mereka tidak hanya menjadi ruang diskusi dan konsolidasi pemuda, tetapi juga menjadi rumah harapan bagi anak-anak yang ingin terus mengenyam pendidikan.
APMPEMUS mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergotong royong memastikan tidak ada lagi anak Indonesia yang merasa sendirian menghadapi masa depan hanya karena keterbatasan ekonomi.
APMPEMUS
Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Peduli Memajukan Sumatera Utara
Bergerak dengan nurani, mengabdi dengan hati.
(**)

